Pedoman umum yang sering dilakukan oleh para pemotret pada saat memotret suasana malam adalah memotret secara menyeluruh, menangkap seluas-luasnya pandangan yang dapat tercakup dengan lensa sudut lebar. Memang pemotretan bisa juga dilakukan dengan menggunakan lensa normal ataupun lensa tele, sehingga tampak sebagian saja dari panorama (medium shot), tetapi umumnya lensa sudut lebar lebih banyak dipakai pemotret. Persiapan itu adalah menyiapkan:
1. Kamera. Sebaiknya gunakan kamera 35 mm jenis SLH yang mempunyai fasilitas pengatur diafragma ataupun kecepatan rana, baik kamera dengan pengaturan cahaya manual maupun yang dengan prioritas kecepatan rana otomatis. Meski tidak tertutup kemungkinan pemotretan dilakukan dengan kamera format medium, tetapi kamera 35 mm lebih banyak dipakai karena kemudahan-kemudahannya.
2. Lensa. Sebagai perlengkapan utama sebaiknya gunakan lensa yang dapat mencakup sudut pandang yang luas, misalnya lensa sudut lebar 24 mm, mungkin juga yang bersudut 20 mm. Meskipun kadang-kadang lensa sudut lebar tak terlalu diperlukan, tetapi sebaiknya lensa tersebut selalu dibawa menyertai lensa jenis tele-zoom menengah seperti 70-210 mm.
3. Tripod. Tak kalah pentingnya tripod atau kaki tiga kamera yang berperan sebagai penopang dalam mengatasi guncangan, karena memotret pada suasana seperti malam yang sering membutuhkan pencahayaan panjang atau pencahayaan yang lama.
4. Cable Release. Kabel penghubung untuk menekan tombol pelepas kamera juga menjadi bagian yang tak bisa dianggap remeh dan sebaiknya selalu dibawa. Tujuannya agar dapat melepas rana secara lembut tanpa menimbulkan getaran atau goyangan pada hasil pemotretan.
5. Filter. Sebagai tambahan untuk memunculkan suasana yang kreatif atau dramatis, juga perlu beberapa filter yang dapat mengubah tampilan suasana sehingga menjadi lebih baik dari suasana aslinya. Misalkan filter 85B yang berguna untuk membantu memunculkan atau menguatkan cahaya kemerahan sehingga menjadi lebih baik.
6. ISO. Mengenai ISO untuk memotret pemandangan malam hari memang selalu harus direncanakan dan dipilih terlebih dahulu. Karena menggunakan ISO rendah dengan harapan mendapatkan foto dengan hasil cetakan berbutir halus namun memerlukan pemotretan yang lama atau long exposure, sedang ISO yang terlalu tinggi akan mengakibatkan hasil gambar yang berbutir kasar dan reproduksi warna yang kurang cerah.
Selebihnya setelah persiapan dilakukan, suatu hasil pemotretan malam hari tampak terang dan menghasilkan foto yang baik tergantung pada pemotret itu sendiri bagaimana memanfaatkan peluang suatu suasana di malam hari tersebut dengan tehnik yang dimiliki. Jika dikembalikan pada teori fotografi yang berarti melukis dengan sinar, maka sebesar apa pun sinar yang ada, setidaknya dapat menjadikannya sebuah lukisan atau foto yang terekspos terang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar