Kamis, 18 Desember 2014

Fotografi

Definisi Fotografi dan Sinematografi
  • Fotografi: Kegiatan mengambil dan mencetak foto.
  • Sinematografi: Fotografi gambar bergerak.
Dasar-dasar Sinematografi
  • Framing: Kegiatan membatasi adegan / mengatur kamera sehingga mencakup ruang penglihatan yang diinginkan.
  • Angle: Sudut pengambilan Gambar.
  • Shot size: Cara pengambilan gambar.
  • Komposisi: Penyusunan elemen-elemen dalam sebuah pengambilan gambar, termasuk di dalamnya adalah warna dan objek.
Kamera Subjektif/Objektif
  • Kamera Subjektif. : Cara pengambilan gambar, seolah-olah audiens menjadi bagian dari peran tertentu.
  • Kamera Objektif. : Cara pengambilan gambar, dimana audiens hanya menjadi pengamat.
Shot size
  • Extreme Long Shot
  • Long Shot
  • Medium Long Shot
  • Medium Shot
  • Medium Close Up
  • Close Up
  • Big Close Up
  • Extra Close Up
Focus
  • Follow Focus: Fokus kamera mengikuti objek bergerak.
  • Pull / Rack Focus: Fokus berubah dari satu objek ke objek yang lain.
Angle
  • High angle
  • Normal
  • Low angle
Jenis lensa
  • Wide angle
  • Tele
  • Macro
  • Normal

Rabu, 17 Desember 2014

Macam-macam Teknik Fotografi


1. Depth of field (ruang tajam)
Hal-hal yang mempengaruhi teknik fotografi ruang tajam adalah:
  • Jarak pemotretan (jauh=luas, dekat=sempit)
  • Bukaan diafragma (kecil=luas, besar=sempit)
  • Jarak fokus lensa /focal length (tele=sempit, wide=luas, normal=bisa diatur)
2. Panning
  • Panning adalah salah satu cara untuk memberikan kesan gerak pada foto.
  • Ketika melakukan panning, anda harus mengikuti objek selama membidik.
  • Hasil foto menjadikan objek menjadi relatif tajam dibandingkan dengan backgroundnya yang hampir sepenuhnya blur.
  • Untuk mendapatkan foto panning secara maksimal; dengan speed rendah (8-60), dan pakailah tripod (kaki tiga).
3. Slow & stop action
  • Slow action: salah satu teknik fotografi yang bertujuan memperlihatkan/menangkap gerakan objek. Biasanya digunakan kecepatan rendah, antara 1/30 sampai 1 detik.
  • Stop action: kebalikan dari slow, yaitu teknik fotografi untuk bertujuan membekukan gerak objek. Biasanya digunakan kecepatan tinggi, antara 1/125 sampai 1/4000 atau lebih.
4. Zooming
  • Zooming adalah teknik foto untuk memberikan kesan gerak dengan mengubah panjang fokus lensa.
  • Perubahan panjang fokus hanya dapat dilakukan dengan lensa zoom.
  • Untuk mendapatkan kesan gerak, anda harus menggunakan kecepatan rana tidak lebih dari 1/30 detik.
  • Untuk mendapatkan foto zooming secara maksimal, pakailah tripod (kaki tiga).
5. Bulb
  • Kecepatan rana dapat diatur sesuai dengan waktu yang kita inginkan.
  • Teknik ini dilakukan dengan menahan tombol pelepas rana dengan lebih lama.
  • Untuk mendapatkan hasil foto bulb secara maksimal, dapat digunakan kabel release dan tripod.
  • Misal, kita mempergunakan kecepatan 30 detik sampai habis waktu perekaman cahaya.

Teknik Mengambil Foto Panning

Dibawah ini beberapa teknik yang bisa dilakukan untuk Foto Panning

  • Atur Shutter Speeds: untuk speed diatas 1/125 dianggap fast speed. Tergantung objek yang akan di panning semakin cepat gerak objek maka semakin cepat shutter speed yang digunakan.
  • Atur Fokus secara manual atau Continuous Focus 
  • Ikut arah pergerakan objek dan pada saat moment yang sesuai tekan shutter untuk membekukan objek ( freeze )
  • Tantangannya adalah kecepatan kamera mengikuti objek harus sama dengan kecepatan objek, jika tidak objek gambarnya agak sedikit blur. Jika memungkinkan background di belakang objek memiliki warna lebih gelap atau warna warni supaya kelihatan lebih menarik.
  • Jangan menggunakan LCD dalam menggunakan teknik Panning.
  • Jika Shutter speed lebih cepat dari objek maka gambar yang dihasilkan statis, dengan background kurang blur.

Bagi pemula 25-30 foto yang diambil mungkin hanya 1 yang tajam. Jadi jangan khawatir untuk terus mencoba teknik ini dan latihan yang rutin akan membuat rasio keberhasilannya akan semakin tinggi.

Sebagai Gambaran Setting Generik Panning untuk mengambil gambar orang bersepeda atau burung yang sedang terbang bisa menggunakan Speed 1/200, ISO 100, Focus di Set Continuous (AF-C Nikon) atau (AI Servo Canon), Focal length 200mm.

Teknik fotografi

Teknik fotografi-unsur-unsur visual

Agar foto anda terlihat menarik anda bisa menambahkan unsur-unsur visual. Teknik fotografi ini selalu berhasil membuat foto enak dipandang dan memiliki rasa seni. Unsur unsur visual yang bisa anda tambahkan dalam komposisi foto anda adalah garis (bisa lurus, diagonal, vertikal dan horizontal), bidang (segitiga, segi emapt, bulat), warna (warna yang kontras selalu mnarik mata), tekstur (permukaan atau bentuk dari permukaan objek), dan pola (hampir mirip-mirip dengan irama). Pastikan di foto anda memasukkan unsur-unsur ini, teknik fotografi ini dapat diterapkan untuk semua seni visual 2 D seperti foto.

Teknik fotografi-memilih perspektif

Seorang fotografer dituntut jeli dalam memilih  persepektif sudut pandang karena pengambilan sudut pandang dalam fotografi akan menghasilkan foto yang berbeda. Teknik fotografi  ini sangat diperlukan agar foto yang anda hasilkan berbeda dengan orang lain walau objeknya sama. Semisal hunting foto dengan rekan-rekan anda dengan objek model wanita, hasil yang didapatkan tiap orang akan berbeda karena sudut pandang yang digunakan juga berbeda

Teknik fotografi-The Rule of Third

Teknik ini sangat umum digunakan di kalangan pecinta fotografi. Teknik The rule of third menjadi panduan wajib bagi setiap orang yang ingin fotonya terlihat menarik. Teknik fotografi ini membagi bidang gambar menjadi tiga bagian vertical dan tiga bagian horizontal. Garis-garis vertical dan horizontal ini merupakan  posisi penempatan objek paling ideal. Dalam dunia fotografi, the Rule of third atau aturan 1/3 bagian adalah petunjuk bagaimana caranya memposisikan obyek di 1/3 bagian dalam foto agar lebih enak dilihat. Teknik fotografi ini juga termasuk dalam mengkomposisikan obyek kedalam satu frame, dengan posisi yang tepat mengikuti acuan aturan sepertiga itu. Aturan ini mungkin lebih tepat disebut sebagai panduan, sebab tidak selamanya penempatan obyek di 1/3 bagian foto itu nikmat untuk dilihat bergantung dari obyek dan hasil foto yang dihasilkan oleh fotografer.
Apabila anda sudah paham mengenani the rule of third, teknik fotografi ini dapat di kombinasikan dengan teknik fotografi yang sudah saya jelaskan sebelumnya seperti kontras, anggap saja anda sudah menemukan objek foto yang warnanya kontras dibandingkan lingkungan sekitar lalu anda bisa menambah tekanan pada komposisi dengan penempatan objek sesuai the rule of third. Kombinasi teknik fotografi ini akan membuat foto anda semakin menarik

Teknik fotografi-framing

Teknik fotografi selanjutnya adaah framing atau memberikan bingkai pada komposisi anda banyak dilakukan pada fotografi landscape. Fotografi landscape atau pemandangan alam banyak disukai oleh orang banyak tidak terkecuali pengguna kamera saku dan prosumer. Untuk menyiasati keterbatasan yang ada gunakan teknik framing pada komposisi foto anda, cari dahan pohon , daun jendela, pintu atau apa sajalah dengan penempatanya di pinggir frame dan jangan terlalu besar atau terlalu kecil. Anda bisa juga mengaplikasikan teknik fotografi ini dengan menggunakan jendela atau pintu dimana penempatanya akan mengelilingi komposisi frame dengan latar belakang pemandangan.

Teknik Fotografi

Beberapa teknik yang dapat diterapkan agar mendapat mood yang kuat pada foto:

1. Menggunakan F/Diafragma besar
Objek yang difoto akan sangat tajam dan tentunya background menjadi out of focus. Nah dari background tersebutlah bisa dibentuk sebuah mood, karena kita tidak mengerti apa latar dari foto tersebut dan imajinasi lah yang bermain disini. Momen terbaik adalah saat backround lebih gelap daripada objek, shadow lebih menonjol daripada available light

2. Low light
Siapa bilang foto low light adalah foto yang gagal ? Low light adalah salah satu teknik pada mood photography. Untuk menangkap objek yang diam, anda dapat menggunakan tripod untuk menghindari shake pada kamera. Sedangkan objek yang bergerak, maka gunakanlah iso yang tinggi. Anda pasti berfikir iso yang tinggi pasti menghasilkan noise. Noise inilah yang menjadi salah satu penguat mood pada foto, seperti grainy di kamera film tua.

3. Color Temperature
White balance sangat mempengaruhi mood seseorang saat menafsirkan suatu foto.

4. Backlight
Teknik backlight sangat disarankan pada pagi hari jam 6-8 dan sore hari 4-6. Karena available light pada jam tersebut sangat lembut dan mudah untuk mengatur angle motret. Foto backlight pastinya sudah tidak asing lagi bagi anda, contohny identik dengan objek manusia di padang ilalang dll.

5. Black and White
Inilah teknik paling umum dan dapat membuat foto menjadi extra moody. Teknik merubah warna menjadi hitam putih pun sangat banyak, sesuai selera anda. Saya sendiri menyukai foto bw dengan soft contrast dan low light. Contoh lainnya warna creamy, sepia, vintage, cross process, dll.

Cara Merawat Kamera Digital DSLR

  1. Jauhkan dari Kapur Barus

    Benda perusak yang sangat ampuh terhadap kamera Anda adalah kapur barus. Benda itu dapat menyekat-nyekat kamera dan bagian kamera yang berbahan dasar karet. Jalur PBC (Printed Circuit Board) pada kamera digital juga dapat rusak oleh kapur barus. Tempat chip-chip kamera yang terpasang dan elemen chip itu sendiri menjadi rusak. Lensa pun akan terdapat flek melalui uap kapur barus.

    Tempat yang kedap udara, sejuk dan kering sangat cocok sebagai tempat menyimpan kamera. Wadah yang tertutup rapat dan diberi silica gel didalamnya untuk menyerap kelembaban, adalah alternatif untuk penyimpanan kamera. Aturlah sirkulasi udara dan kelembabannya jika Anda ingin menyimpan dalam lemari. Pasanglah lampu berkekuatan 5 watt dan diletakkan pada jarak kurang lebih 40 cm di atas kamera dan perlengkapan yang lainnya. Sebelum menyimpannya, jangan lupa membuka pembungkus kamera dan membersihkannya.

    Jadi, jangan sekali-kali menyimpan kamera di dalam lemari apapun yang telah diisi kapur barus atau kamper pengharum pakaian. Hal tersebut mengingat kerusakan kamera yang diakibatkan oleh kapur barus biasanya tak bisa diperbaiki lagi.
  2. Hindari Kontak Langsung dengan Sinar Matahari

    Bagian-bagian kamera yang terbuat dari plastik dan karet, serta komponen elektronik lainnya akan rusak jika terkena panas yang tinggi. Jagalah kamera agar jangan sampai terjemur atau terkena cahaya matahari secara langsung dan berlebihan.
  3. Jagalah dari Goncangan yang Berlebihan

    Biasanya ketika Anda hendak membeli kamera, Anda ditawarkan tas khusus atau sudah termasuk paket. Gunakanlah tas tersebut untuk menaruh kamera Anda agar terhindar dari guncangan yang berlebihan. Letakkan kamera beserta tas khusus pada tempat yang aman dan tahan guncangan. Benturan antar peralatan kadang tidak kita sadari.
  4. Bersihkan Kamera dan Lensa

    Anda bisa menggunakan lap kering yang bersih dan tidak kasar untuk membersihkan bagian luar fisik kamera. Sedangkan untuk elemen-elemen kecil di bagian dalamnya, gunakan blower atau peniup yang banyak dijual di toko kamera. Kuas berserabut halus pun bisa Anda jadikan alat alternatif. Bersihkanlah seminggu sekali dan secara teratur.

    Jika lensa terkena noda seperti jari yang berminyak atau air keringat, Tissue khusus bisa Anda jadikan alat untuk membersihkannya. Terlalu sering mencuci lensa dan membersihkan bagian dalam yang berjamur juga tidak baik. Kepekaan yang dimiliki kaca lensa sangat berpengaruh. Mutu gambar akan menurun jika sering membersihkannya.
  5. Hindari Goresan pada Lensa

    Keasikan memotret kadang tanpa disadari ada saja yang membuat lensa tergores. Untuk menghindari hal itu, pasanglah filter ulir permanen di bagian depan lensa. Filter UV (Ultra Violet) atau filter skylight biasanya umum dijadikan filter pelindung. Saat lensa dilepas dari badan kamera, pasanglah 'bodycup' untuk menghindari goresan di bagian belakang lensa.
  6. Hindari Air Laut

    Saat ini memang sudah banyak dijual pelindung anti air untuk kamera Anda. Namun tetaplah waspada menggunakan kamera di pantai. Kamera Anda akan berkarat jika terkena air laut. Lain halnya jika kamera Anda memang dirancang untuk bisa beradaptasi dengan air.

    Segeralah membersihkan kamera sehabis digunakan di daerah pantai. Butir-butir garam yang ditinggalkan uap air laut bisa menjadikan kamera berkarat. Rendamlah langsung kamera Anda ke dalam air tawar jika tanpa sengaja tercebur ke dalam air laut. Hilangkanlah bekas-bekas air laut tersebut dengan membilasnya berkali-kali. Lakukanlah hal itu sesegera mungkin, sebab proses pengrusakan oleh air laut berlangsung sangat cepat. Barulah Anda bawa kamera tersebut ke ahli servis kamera untuk membersihkan dan mengeringkannya.
  7. Service di Tempat Terpercaya atau Resmi

    Menunggu kamera rusak baru kemudian diservis adalah hal yang salah. Mintalah bantuan pada Service Center kamera Anda untuk memberitahukan kurun waktu yang tepat untuk Anda melakukan servis kamera. Servis itu meliputi pembersihan lensa dari jamur yang menempel atau juga penyesuaian setelan-setelan utama kamera.

Aksesoris kamera

  1. Olloclip
    Kickstarter telah membuat lensa tambahan untuk memotret dengan piranti iPhone agar lebih menyenangkan. Lensa macro, fisheye dan wide-angle semua dipasang di single clip untuk dipasang di kamera iPhone. Tool ini dihargai USD 49,00.
  2. iPad CF dan SD Card Reader
    Upload foto dan video langsung ke iPad atau iPad 2 menjadi mudah dengan card reader ini. Semua kartu memori hingga 4GB mampu dibaca card reader ini.
  3. Owle
    Bagi Anda pengguna iPhone 3GS, 4 dan 4S, Owle adalah video rig untuk piranti Anda tersebut. Body alumunium, kelengkapan VeriCorder mic, lensa adapter wide angle 0.45x37mm, 4 tripod socket dan dual-sidep grip menjadi satu paket. Selain ringkas untuk dibawa ke mana-mana, ponsel Anda mampu tetap tegap dengan beratnya yang hanya 11 pound.
  4. Lensa Kamera Lo-fi Micro 4/3
    Jika Anda pemilik kamera Olympus atau Panasonic dengan sistem 4/3 (micro four thirds) maka aksesoris ini adalah lensa manual fokus yang cocok. Lo-fi seperti low contrast, soft bokeh, vignetting, lens flare dan DoF (Depth of Field) yang dalam adalah efek hasil foto yang akan Anda dapatkan. Dengan harga USD 90.00 lensa ini memiliki bukaan dari f/1.4 hingga f/16.
  5. Lensa Telephoto untuk iPhone
    Untuk pemotretan konser atau pertunjukan lainnya, lensa ini sangat tepat. Anda bisa mengambil foto 8x lebih dekat dengan lensa telephoto ini. Karena tools ini merupakan lensa fix telephoto maka pengguna tidak bisa melakukan zoom in dan zoom out. Namun bobotnya ringan meski terlihat besar. Piranti senilai USD 35,00 ini hadir dengan mini tripod.
  6. Gorillapod
    Tripod yang bisa dipakai di berbagai permukaan, termasuk di permukaan magnetic. Selain diperuntukkan bagi piranti mobile, ia juga bisa dipakai untuk kamera DSLR.
  7. Eye-Fi SD Memory Cards
    Anda bisa mengupload foto dari kamera ke desktop, iPhone, iPad, piranti Android dan juga ke situs jejaring sosial dengan SD card ini. Sebab Eye-Fi SD Memory Cards dilengkapi dengan wireless. Tentu saja, aktivitas ini bisa dilakukan apabila ada koneksi Wi-Fi. Beberapa model dari kartu yang dihargai USD 49,99-USD 99,99. ini, sudah dilengkapi dengan geotagging dan kemampuan HotSpot.

Teknik Foto Potret

  1. Lensa yang Cocok Untuk Foto Potret
    Gunakanlah lensa antara 105 sampai 150 mm untuk mengambil foto potret. Jika Anda tidak dapat mengganti atau mengatur lensa kamera Anda, misalnya kamera saku (pocket camera), Anda dapat mengatur jarak antara Anda dan subyek yang difoto. Carilah posisi foto yang paling tepat dengan mendekati atau menjauh dari subyek.
  2. Posisi Subyek Foto
    Baik dalam posisi duduk, berdiri, atau berbaring pastikan subyek yang Anda foto dalam posisi rileks. Mintalah subyek foto Anda sedikit memutar kepala atau badannya jika wajahnya terlalu bulat. Jika wajahnya terlalu bulat, sehingga hanya sebagian wajahnya yang terkena pencahayaan. Hal tersebut guna membuat wajahnya lebih ramping. Posisi tangan dan kaki pun perlu diperhatikan. Pastikan posisi tubuh dalam posisi alami atau natural. Anda bisa meminta subyek foto melakukan pose yang alamiah atau dengan memegang sesuatu. Jangan biarkan kedua tangan lurus ke bawah di samping tubuh. Hal ini membuat subyek terlihat kaku.
  3. Cara Membuat Subyek Tersenyum di Depan Kamera
    Sebelum Anda mulai memotret, pastikan subyek yang Anda foto dalam kondisi atau mood yang baik. Misalnya Anda ingin membuat foto seorang anak kecil, maka pastikan bahwa ia tidak dalam kondisi lelah atau lapar. Bila saat difoto subyek dalam kondisi lelah, maka dapat membuat wajah dan matanya menjadi lebih tegang. Berilah sedikit waktu untuk beristirahat atau menikmati makanan ringan sebelum sesi pemotretan dimulai. Dengan memberi jeda pemotretan Anda akan membangun interaksi yang baik dengan subyek foto Anda. Buatlah subyek merasa rileks dengan bersikap ramah. Namun jangan membuat situasi menjadi lucu yang subyek bisa tertawa terbahak-bahak. Karena hal ini dapat membuat matanya menjadi juling dan membuat aliran darah di wajah lebih banyak. Anda bisa mengambil gambar dengan ekspresi wajah yang berbeda-beda. Semakin banyak foto yang Anda buat, semakin banyak kesempatan memperoleh foto terbaik yang menampilkan karakter orang tersebut.
  4. Penanganan untuk Subyek yang Berkacamata
    Pantulan cahaya dan silau dari efek kacamata membuat hasil foto kurang maksimal. Karena itu Anda dapat melihatnya dari viewfinder atau layar LCD kamera Anda, adakah pantulan cahaya yang mengganggu. Jika ternyata ada pantulan cahaya di kacamata subyek yang Anda foto, Anda dapat memintanya untuk menggerakkan kepalanya secara perlahan hingga pantulan cahaya tersebut hilang dari titik tengah matanya. Mintalah untuk sedikit menundukkan kepalanya namun tetap tidak menimbulkan lipata pada dagu.
  5. Pakaian dan Penampilan
    Jangan melupakan warna pakaian terlebih jika Anda hendak memotret sekelompok orang. Anda dapat meminta mereka menggunakan warna yang sama atau kalaupun berbeda tetap enak dipandang. Lain halnya jika Anda akan mengambil foto seseorang yang berbadan besar, mintalah untuknya menggunakan pakaian berwarna gelap. Pakaian berwarna terang cocok untuk subyek berbadan kurus atau kecil. Pastikan juga pakaian tidak kusut saat difoto. Jika orang tersebut menggunakan dasi, perhatikan apakah dasinya sudah lurus dan rapi. Rambut yang rapi juga jangan sampai terlewat sebab lensa kamera akan menangkap jelas helai rambut yang keluar. Lalu jika Anda akan mengambil gambar seorang wanita, pastikan make up yang digunakan telah sesuai.
  6. Foto Indoor
    Untuk foto yang di ambil didalam ruangan, Anda bisa mempersilahkan subyek yang Anda foto untuk duduk di kursi atau sofa yang diletakkan di depan sebuah tembok berwarna cerah atau di dekat tanaman indoor. Aturlah latar belakang foto agar menggambarkan kegiatan favorit dari subyek foto. Misalnya Anda dapat meletakkan rak buku untuk yang hobi membaca.
  7. Foto Outdoor
    Perhatikanlah situasi dari latar belakang foto Saat Anda akan mengambil foto di luar ruangan. Pilihlah pohon, bunga, pagar kayu, atau tembok rumah sebagai latar belakang. Hindari mengambil foto dengan latar kegiatan yang sibuk seperti jalan raya, kabel listrik, atau daerah bisnis. Keindahan foto potret Anda akan berkurang karena hal itu. Ingatlah subyek Anda dalam foto potret adalah orang yang akan Anda foto saja dan bukan latar belakangnya.
  8. Komposisi Foto
    Jika Anda akan membuat bingkai untuk foto tersebut, sisakanlah sedikit jarak dari subyek yang Anda foto ke sisi foto tersebut. Lalu posisikan wajah atau mata dari subyek foto Anda pada area kira-kira sepertiga bagian atas atau samping atau bawah foto Anda. Dalam ilmu fotografi, teknik ini dikenal dengan nama rule of thirds. Anda juga dapat menjadikan mata dari subyek foto di bagian tengah foto Anda.

Lensa teleconverter


Biasanya Lensa teleconverter dipasangkan diantara kamera dan lensa dengan tujuan untuk memperpanjang fokal lensa, sehingga kita bisa memotret subjek yang jauh sekali dengan lebih mudah. Namun kekurangan teleconverter adalah ketajaman foto menurun, dan bukaan maksimum lensa jadi berkurang. Semakin besar perbesarannya, semakin menurun kualitas gambarnya.

Contohnya, jika bukaan lensa maksimumnya adalah f/2.8, maka setelah memasang teleconverter, bisa menjadi f/4 atau f/5.6, tergantung dari jenis teleconverter yang dipasang.

Biasanya, teleconverter tersedia untuk lensa-lensa telefoto, yang populer untuk memotret subjek dari kejauhan misalnya fotografi olahraga dan satwa liar.

Ada dua jenis yang populer, yaitu yang dapat memperpanjang fokal lensa 1.4X dan 2X. Contohnya, jika kita memasang teleconverter 1.4 di lensa 200mm, maka fokal lensanya menjadi 1.4 X 200mm = 280mm. Sedangkan jika kita memasang lensa yang 2X, maka fokal lensanya menjadi 2 x 200mm = 400mm.

Jika kita memotret di kondisi cahaya yang terang, dan objeknya jauh sekali, misalnya burung liar, maka, saya sarankan yang teleconverter 2X. Tapi jika subjeknya gak terlalu jauh, dan ingin mempertahankan ketajaman foto, maka 1.4X lebih baik. Baca Juga Tips memotret Ray of Light.

kelebihan dan kekurangan teleconverter
Contoh teleconveter Sigma 1.4x (kiri) dan 2x (kanan)

Teknik street photography


  • Mengetahui Peralatan Anda

Apapun kamera yang Anda gunakan, Anda harus tahu peralatan Anda secara menyeluruh. Anda perlu memiliki peta setting kamera Anda. Anda harus dapat menyesuaikan pengaturan kamera tanpa mengalihkan mata Anda dari view finder. Satu-satunya cara untuk menguasai ini adalah dengan berlatih. 
Periksa daftar lokal Anda. 

Street photography bukan hanya tentang motret di jalanan. Apa pun yang Anda potret di tempat umum berada di bawah Street Fotografi. Periksa setiap hari koran lokal Anda untuk lihat jadwal event atau apapun yang akan digelar di sekitar kota Anda. Pilih topik atau acara yang menarik dan pergi ke sana. Keuntungan dari daftar yaitu akan menjadikan foto-foto yang Anda potret selalu menarik.


  • Terus Bergerak
Ketika kita memotret di jalan-jalan, subjek tidak akan muncul di depan kamera. Kita perlu mencari aksi atau subyek yang menarik, jika Anda duduk di satu tempat kemungkinan sangat kurang. Terus berjalan di jalan yang Anda pilih untuk memotret. 

  • Selalu Siap
Jangan bersantai. Selalu siap dengan kamera untuk memotret. Orang-orang akan selalu bergerak di sekitar Anda. Jika Anda melewatkan aksi, itu tidak akan datang lagi. Jadi siap untuk mengambil foto. 


  • Mendekatlah
Jika foto Anda tidak cukup baik, mendekatlah dan dapatkan foto dengan detail. 

  • Bersikap Hormat
Bersikap sopan dan hormat dengan orang-orang di jalan-jalan. Jika seseorang tidak ingin kita ambil fotonya, kita harus meninggalkannya. Jangan berdebat dengan mereka. Jika beberapa orang ingin melihat foto-foto mereka di kamera, perlihatkanlah pada mereka agar mereka merasa senang.

  • Perhatikan Backgrounds
Apa yang terjadi di balik subjek Anda adalah benar-benar penting. Sebagian besar latar belakang akan menambah daya tarik tersendiri untuk foto Anda, tapi kadang-kadang latar belakang akan mengalihkan perhatian. Pilih latar belakang dengan bijaksana. 

  • Gunakan Natural Light
Cahaya ini sangat penting bagi semua genre fotografi. Gunakan cahaya alami sebanyak mungkin - pagi dan sore adalah waktu terbaik untuk memotret. 

Teknik Flare Photography

1. Hindari lensa dari sumber cahaya langsung.
Meskipun cara ini akan menjadikan pemotretan tidak seratus persen back lighting karena sinar cenderung agak dari samping atau dari atas, tetapi hal itu tidak menjadi masalah. Sebab pengertian back lighting itu sendiri juga bukan berarti selalu menentang sinar dalam arti sesungguhnya, dimana terjadi perpotongan garis lurus antara sudut datangnya sinar dengan lensa kamera.
Penghindaran lensa dari sumber cahava langsung hanya sebatas pada usaha agar lensa tidak kemasukan sinar secara langsung yang menimbulkan flare pada hasil foto. Cara menghindarkan lensa dari sumber cahaya langsung ini tidak hanya dapat dilakukan dengan menyamping ke kanan atau kekiri, melainkan juga bisa dengan mengambil sudut agak ke atas atau high angle sehingga sinar langsung tidak masuk ke dalam lensa. 

2. Gunakan tudung lensa (lens hood).
Tudung lensa umumnya terbuat dari bahan lunak (karet) yang lentur, ada juga yang dari logam. Penggunaannya dipasang pada bagian depan lensa seperti halnya memasang filter. Dengan menggunakan tudung lensa diharapkan dapat menghindari cahaya yang tidak dikehendaki. Karena permukaan bagian dalam tudung lensa yang kasar dan bergaris-garis mampu menetralisir, sinar vang masuk mengenai lensa. Namun demikian menggunakan tudung lensa juga tak menjamin berhasil mendapatkan foto menentang sinar yang baik terlebih bila lensa masih terkena terpaan sinar langsung.
Tudung lensa memang dapat membantu menghasilkan foto menentang sinar yang baik, akan tetapi sesungguhnya berhasil dan tidaknya juga sangat tergantung dari kemampuan pemotret itu sendiri. Karena bisa saja suatu lensa tidak dilengkapi dengan lens hood, tapi tetap saja pemotret yang berpengalaman akan menghasilkan foto back lighting yang baik karena kemampuannya menggantikan peran tudung lensa dengan melindungi lensa dari terpaan sinar secara langsung menggunakan telapak tangannya sendiri atau menggunakan kertas koran; majalah maupun benda lain. 

3. Memilih atau menentukan sudut pemotretan yang tepat.
Misalnya dengan memilih sudut pandang yang lebih tinggi dari subjek atau berusaha menempatkan subjek sehingga menutupi sumber sinar. Akan tetapi dengan cara ini maka pemotret memerlukan sinar tambahan dari depan sasaran pemotretan atau sering kita kenal sebagai fill in, yaitu sinar tambahan yang berasal dari bagian depan subjek. Dan hal itu bisa dilakukan dengan menggunakan lampu kilat atau reflektor yang terbuat dari styrofoam atau kertas timah. Sehingga bagian muka atau wajah subjek atau bagian yang mengarah ke kamera tidak terekam gelap.
Yang sering terjadi pada pemotretan back lighting yang tidak menggunakan tambahan sinar dari depan atau fill in akan menjadikan foto tampak hitam (siluet) dan under atau kurang sinar. Pada foto berjudul "Memotret" kendati pemotretannya dilakukan dengan menentang sinar dan tidak ada tambahan sinar lain dari arah depan subjek (fill in), tetap mampu menampilkan ekspresi wajah sang ibu dan anaknva (tidak terlalu gelap atau tidak terlalu terang) karena saat pemotretan dilakukan penambahan pencahayaan dengan melebihkan 1 (satu) stop dari cahava yang terukur normal pada kamera.
Namun demikian mengakibatkan latar belakang yang sesungguhnya cenderung terekam agak gelap menjadi ikut berubah agak sedikit terang. Beruntung keadaan ini tidak terlampau mengganggu keinginan menampilkan pencahayaan back lighting karena latar belakang berwarna senada. Selain itu pilihan penggunaan bukaan diafragma besar sangat membantu terciptanya keberhasilan foto karena latar belakang menjadi kabur dan subjek menjadi menonjol.
Pemotretan back lighting atau menentang sinar seperti ini bisa dikatakan berhasil meskipun sesungguhnya ukuran keberhasilan fotonya tak semata ditentukan oleh pengukuran pencahayaan yang baik, melainkan juga ditentukan oleh framing atau pembingkaian _yang akurat dan timing atau saat-saat yang pas dalam menekan tombol pelepas rana kamera sehingba subjek terasa kuat. 

Latar Belakang
Hasil foto dengan menggunakan teknik back lighting umumnva tampil dengan latar belakang yang gelap. lembut dan hitam atau gelap pekat. Dan itu adalah hal yang dibenarkan dalam pemotretan back lighting karena dengan latar belakang gelap akan memunculkan kesan sinar yang berasal dari belakang. Sementara latar belakang terang akan menjadikan apa yang dihasilkan oleh sinar dari belakang yang mengenai subjek hampir tidak terlihat. Untuk itu sebelum melakukan pemotretan disarankan untuk selalu mempertimbangkan lebih dahulu latar belakangnya, apakah sudah cukup untuk memunculkan kesan itu atau belum.
Untuk foto berwarna barangkali persoalan latar belakang, tak terlalu sulit. Karena hanya dengan mencari latar belakang yang bewarna tua, sudah cukup memadai untuk maksud memperlihatkan efek penyinaran dari belakang. Tetapi untuk foto hitam-putih, harus ekstra hati-hati dalam menentukan latar belakangnya. Sebab ada warna-warna tertentu yang oleh mata tampak cukup gelap tetapi ternyata masih terlalu terang untuk film hitam-putih.
Latar belakang gelap dan polos memang akan lebih memudahkan dalam pemotretan, sebab pemotret bisa memilih diafragma kecil yang menjamin keluasan ruang tajam dan terciptanya subjek vang menonjol. Sebaliknya pada latar belakang berwarna warni, perlu usaha keras untuk menjinakkannva agar menghasilkan foto dengan subjek utama yang tidak terganggu oleh latar belakangnya yang masih tampak tajam. Karena itu pada latar belakang yang berwarna-warni perlu diusahakan pemotretan dengan menjauhkan subjek dari latar belakang. Semakin jauh subjek dari latar belakang semakin timbul kesan kabur latar belakang tersebut.
Persoalan latar belakang memang dapat diatasi dengan berbagai cara agar menghasilkan foto _yang tampak menawan pada tehnik back lighting. Satu lagi cara yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan diafragma besar, misalnya f.2,8 untuk mengaburkan latar belakang. Tetapi pemotretan dengan cara ini memerlukan cara kerja ekstra hati-hati khususnya dalam persoalan memfokus. Sebab seperti diketahui, diafragma besar memiliki ruang tajam yang amat sempit, sehingga kemungkinan out of focus atau melesetnya ketajaman bambar sangat mungkin terjadi.
Dalam foto berjudul "Si Kecil" tampak sekali bahwa penggunaan diafragma besar dengan ruang tajamnya yang sempit mampu menjadikan subjek menonjol sehingga latar belakang betul-betul tampak blur (kabur). Penambahan cahaya vang dilakukan dari depan subjek atau fill in menjadikan hasil foto tampak jelas dalam mempertontonkan wajah subjek - bandingkan dengan foto berjudul "Memotret" yang sama-sama menggunakan lensa 80-200mm f2,8 tetapi tidak menggunakan cahaya tambahan didepan atau fill in. 

Pengukuran Cahaya
Dari sekian banyak hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan pemotretan back lighting adalah persoalan pengukuran cahaya. Bahkan pengukuran cahaya merupakan sesuatu yang vital dalam back lighting. Sedikit saja kesalahan dalam melakukan pengukuran cahaya menjadikan hasil foto tak sempurna. Pada foto berjudul "Memotret" pengukuran cahayanya dilakukan dengan alat pengukur cahaya (light meter) yang ada di kamera.
Karena itu dari bagian depan subjek (wajah) yang merupakan elemen terpenting dalam pemotretan ini tampak tidak terlalu terang. Namun demikian penggunaan diafragma besar dengan benar telah mampu menjadikan foto ini cukup berhasil karena latar belakangnva tampak kabur dan subjek tampak menonjol.
5esungguhnya pengukuran sinar atau pencahayaan dapat ditempuh dengan berbagai cara sesuai pengalaman pemotret. Satu di antaranya dengan mengukur mendekati subjeknya kira-kira 30 cm. Setelah mendapat angka diafragma yang tepat, baru mundur dan melakukan pemotretan dari jarak yang telah ditentukan, Cara lain dengan mengukur menggunakan kertas grey target, yaitu kertas berwarna abu-abu (18 %) yang dianggap paling netral dalam memancarkan sinar. Tehnik pengukurannya juga sama dengan mengarahkan kamera pada kertas dengan jarak sekitar 30 cm. Dalam pengukuran pencahayaan seperti ini, kalau pengukur cahaya menunjukkan over atau lebih dan under atau kurang tak perlu risau. Sebab sesungguhnya ukuran cahayanya telah menjadi rata-rata.