1. Hindari lensa dari sumber cahaya langsung.
Meskipun cara ini akan menjadikan pemotretan tidak seratus persen back lighting karena sinar cenderung agak dari samping atau dari atas, tetapi hal itu tidak menjadi masalah. Sebab pengertian back lighting itu sendiri juga bukan berarti selalu menentang sinar dalam arti sesungguhnya, dimana terjadi perpotongan garis lurus antara sudut datangnya sinar dengan lensa kamera.
Penghindaran lensa dari sumber cahava langsung hanya sebatas pada usaha agar lensa tidak kemasukan sinar secara langsung yang menimbulkan flare pada hasil foto. Cara menghindarkan lensa dari sumber cahaya langsung ini tidak hanya dapat dilakukan dengan menyamping ke kanan atau kekiri, melainkan juga bisa dengan mengambil sudut agak ke atas atau high angle sehingga sinar langsung tidak masuk ke dalam lensa.
2. Gunakan tudung lensa (lens hood).
Tudung lensa umumnya terbuat dari bahan lunak (karet) yang lentur, ada juga yang dari logam. Penggunaannya dipasang pada bagian depan lensa seperti halnya memasang filter. Dengan menggunakan tudung lensa diharapkan dapat menghindari cahaya yang tidak dikehendaki. Karena permukaan bagian dalam tudung lensa yang kasar dan bergaris-garis mampu menetralisir, sinar vang masuk mengenai lensa. Namun demikian menggunakan tudung lensa juga tak menjamin berhasil mendapatkan foto menentang sinar yang baik terlebih bila lensa masih terkena terpaan sinar langsung.
Tudung lensa memang dapat membantu menghasilkan foto menentang sinar yang baik, akan tetapi sesungguhnya berhasil dan tidaknya juga sangat tergantung dari kemampuan pemotret itu sendiri. Karena bisa saja suatu lensa tidak dilengkapi dengan lens hood, tapi tetap saja pemotret yang berpengalaman akan menghasilkan foto back lighting yang baik karena kemampuannya menggantikan peran tudung lensa dengan melindungi lensa dari terpaan sinar secara langsung menggunakan telapak tangannya sendiri atau menggunakan kertas koran; majalah maupun benda lain.
3. Memilih atau menentukan sudut pemotretan yang tepat.
Misalnya dengan memilih sudut pandang yang lebih tinggi dari subjek atau berusaha menempatkan subjek sehingga menutupi sumber sinar. Akan tetapi dengan cara ini maka pemotret memerlukan sinar tambahan dari depan sasaran pemotretan atau sering kita kenal sebagai fill in, yaitu sinar tambahan yang berasal dari bagian depan subjek. Dan hal itu bisa dilakukan dengan menggunakan lampu kilat atau reflektor yang terbuat dari styrofoam atau kertas timah. Sehingga bagian muka atau wajah subjek atau bagian yang mengarah ke kamera tidak terekam gelap.
Yang sering terjadi pada pemotretan back lighting yang tidak menggunakan tambahan sinar dari depan atau fill in akan menjadikan foto tampak hitam (siluet) dan under atau kurang sinar. Pada foto berjudul "Memotret" kendati pemotretannya dilakukan dengan menentang sinar dan tidak ada tambahan sinar lain dari arah depan subjek (fill in), tetap mampu menampilkan ekspresi wajah sang ibu dan anaknva (tidak terlalu gelap atau tidak terlalu terang) karena saat pemotretan dilakukan penambahan pencahayaan dengan melebihkan 1 (satu) stop dari cahava yang terukur normal pada kamera.
Namun demikian mengakibatkan latar belakang yang sesungguhnya cenderung terekam agak gelap menjadi ikut berubah agak sedikit terang. Beruntung keadaan ini tidak terlampau mengganggu keinginan menampilkan pencahayaan back lighting karena latar belakang berwarna senada. Selain itu pilihan penggunaan bukaan diafragma besar sangat membantu terciptanya keberhasilan foto karena latar belakang menjadi kabur dan subjek menjadi menonjol.
Pemotretan back lighting atau menentang sinar seperti ini bisa dikatakan berhasil meskipun sesungguhnya ukuran keberhasilan fotonya tak semata ditentukan oleh pengukuran pencahayaan yang baik, melainkan juga ditentukan oleh framing atau pembingkaian _yang akurat dan timing atau saat-saat yang pas dalam menekan tombol pelepas rana kamera sehingba subjek terasa kuat.
Latar Belakang
Hasil foto dengan menggunakan teknik back lighting umumnva tampil dengan latar belakang yang gelap. lembut dan hitam atau gelap pekat. Dan itu adalah hal yang dibenarkan dalam pemotretan back lighting karena dengan latar belakang gelap akan memunculkan kesan sinar yang berasal dari belakang. Sementara latar belakang terang akan menjadikan apa yang dihasilkan oleh sinar dari belakang yang mengenai subjek hampir tidak terlihat. Untuk itu sebelum melakukan pemotretan disarankan untuk selalu mempertimbangkan lebih dahulu latar belakangnya, apakah sudah cukup untuk memunculkan kesan itu atau belum.
Untuk foto berwarna barangkali persoalan latar belakang, tak terlalu sulit. Karena hanya dengan mencari latar belakang yang bewarna tua, sudah cukup memadai untuk maksud memperlihatkan efek penyinaran dari belakang. Tetapi untuk foto hitam-putih, harus ekstra hati-hati dalam menentukan latar belakangnya. Sebab ada warna-warna tertentu yang oleh mata tampak cukup gelap tetapi ternyata masih terlalu terang untuk film hitam-putih.
Latar belakang gelap dan polos memang akan lebih memudahkan dalam pemotretan, sebab pemotret bisa memilih diafragma kecil yang menjamin keluasan ruang tajam dan terciptanya subjek vang menonjol. Sebaliknya pada latar belakang berwarna warni, perlu usaha keras untuk menjinakkannva agar menghasilkan foto dengan subjek utama yang tidak terganggu oleh latar belakangnya yang masih tampak tajam. Karena itu pada latar belakang yang berwarna-warni perlu diusahakan pemotretan dengan menjauhkan subjek dari latar belakang. Semakin jauh subjek dari latar belakang semakin timbul kesan kabur latar belakang tersebut.
Persoalan latar belakang memang dapat diatasi dengan berbagai cara agar menghasilkan foto _yang tampak menawan pada tehnik back lighting. Satu lagi cara yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan diafragma besar, misalnya f.2,8 untuk mengaburkan latar belakang. Tetapi pemotretan dengan cara ini memerlukan cara kerja ekstra hati-hati khususnya dalam persoalan memfokus. Sebab seperti diketahui, diafragma besar memiliki ruang tajam yang amat sempit, sehingga kemungkinan out of focus atau melesetnya ketajaman bambar sangat mungkin terjadi.
Dalam foto berjudul "Si Kecil" tampak sekali bahwa penggunaan diafragma besar dengan ruang tajamnya yang sempit mampu menjadikan subjek menonjol sehingga latar belakang betul-betul tampak blur (kabur). Penambahan cahaya vang dilakukan dari depan subjek atau fill in menjadikan hasil foto tampak jelas dalam mempertontonkan wajah subjek - bandingkan dengan foto berjudul "Memotret" yang sama-sama menggunakan lensa 80-200mm f2,8 tetapi tidak menggunakan cahaya tambahan didepan atau fill in.
Pengukuran Cahaya
Dari sekian banyak hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan pemotretan back lighting adalah persoalan pengukuran cahaya. Bahkan pengukuran cahaya merupakan sesuatu yang vital dalam back lighting. Sedikit saja kesalahan dalam melakukan pengukuran cahaya menjadikan hasil foto tak sempurna. Pada foto berjudul "Memotret" pengukuran cahayanya dilakukan dengan alat pengukur cahaya (light meter) yang ada di kamera.
Karena itu dari bagian depan subjek (wajah) yang merupakan elemen terpenting dalam pemotretan ini tampak tidak terlalu terang. Namun demikian penggunaan diafragma besar dengan benar telah mampu menjadikan foto ini cukup berhasil karena latar belakangnva tampak kabur dan subjek tampak menonjol.
5esungguhnya pengukuran sinar atau pencahayaan dapat ditempuh dengan berbagai cara sesuai pengalaman pemotret. Satu di antaranya dengan mengukur mendekati subjeknya kira-kira 30 cm. Setelah mendapat angka diafragma yang tepat, baru mundur dan melakukan pemotretan dari jarak yang telah ditentukan, Cara lain dengan mengukur menggunakan kertas grey target, yaitu kertas berwarna abu-abu (18 %) yang dianggap paling netral dalam memancarkan sinar. Tehnik pengukurannya juga sama dengan mengarahkan kamera pada kertas dengan jarak sekitar 30 cm. Dalam pengukuran pencahayaan seperti ini, kalau pengukur cahaya menunjukkan over atau lebih dan under atau kurang tak perlu risau. Sebab sesungguhnya ukuran cahayanya telah menjadi rata-rata.